Bagi Anda yang ingin mengikuti setengah perjalanan awal saya di Bangkok bisa mengikuti link ini


Hari-5 Ayutthaya yang Melegenda
29 Juni 2017

Saya tidak menyesal memutuskan pergi ke Ayutthaya seharian ini karena benar-benar luar biasa. Meskipun panas dan melelahkan, tapi saya selalu mengagumi arsitektur lampau yang banyak dipengaruhi Khmer atau gaya Kamboja dengan Prang menjulang tinggi belasan meter. Benar-benar menunjukkan bahwa Siam adalah sebuah peradaban yang memegang peranan penting di Asia Tenggara saat itu. Meskipun banyak hanya berupa reruntuhan setelah pembakaran tahun 1767 dalam perang dengan Burma, sisa-sisa kejayaannya masih terlihat jelas.

Untuk mencapai ke Ayutthaya, saya menggunakan van yang berangkat setiap jam dari terminal Mo Chit daerah Chatuchak. Biayanya 60 B saja dan Anda sudah tiba sejam kemudian. Sampai di Ayutthaya saya menyewa tuk tuk selama 5 jam. Tidak sulit menemukannya karena sehabis Anda turun van Anda akan diserbu oleh beberapa driver. Per jam sewa tuk tuk seharga 300 B jadi in total saya serahkan 1500 B dan driver siap mengantar Anda kemana saja. 

Berikut beberapa tempat yang saya kunjungi 

Wat Yai Chai Mongkol


Wat Kasattrathirat Worawihan


Wat Mahathat dan Buddha Head in The Roots


Untuk berfoto dengan latar kepala Buddha ini, Anda diharuskan duduk untuk menghormati Sang Buddha.

Wat Phra Si Sanphet



Wat Lokayasutharam


Untuk urusan makan saya diantar ke sebuah rumah makan bernama Baanice (entahlah sepertinya driver sudah kerjasama dengan pemilik restoran). Tempatnya bersih dan recommended karena rasa tom yum yang saya pesan enak banget. Tapi lumayan mahal karena total saya membayar 460 B, termasuk makan siang untuk driver

Wat Chaiwatthanaram



Kembali ke Bangkok saya menggunakan van lagi dengan harga yang sama sekitar pukul 5 dan masih sempat foto di Chatuchak Park meskipun dengan betis yang luar biasa kaku.


Hari-6 Ananta Samakhom Throne Hall dan Ngopi di kawasan Ari
30 Juni 2017

Pagi hari dengan Uber saya mengejar waktu ke Vimanmek Mansion. Sudah terbayang arsitektur kayu yang khas, tapi sayangnya hari itu sedang tutup. Alhasil saya bergerak ke arah Ananta Samakhom Throne Hall yang tak kalah bagus dibarengi sedikit gerimis namun tidak menganggu. 


Setelah puas foto-foto saya menuju Wat Intharawihan dengan patung Buddha pipih setinggi 32 meter. Saya agak banyak bersantai-santai karena hari ke enam ini tidak banyak yang ingin saya lakukan. 


Saya lalu mengarah ke Ari BTS mencari secangkir kopi karena sudah beberapa hari ini absen dari si hitam addicting ini. Jika biasanya coffee shop unggulan Bangkok bisa Anda jumpai di kawasan Ekkamai, Ari justru sedang berkembang. Satu yang saya hampiri adalah Porcupine dengan layanan sangat ramah dan cukup tenang. 


Hari-7 Jim Thompson House dan The Amazing MOCA Bangkok
1 Juli 2017

Karena flight saya masih jam 9 malam, saya punya satu hari yang cukup untuk menambah beberapa daftar kunjungan. Paginya saya mampir ke Jim Thompson House yang tidak jauh dari guest house. Sengaja saya taruh paling akhir jadi saya tidak perlu membawa koper kemana-mana. Untuk masuk Anda perlu membayar 150 B. Rumah ini penuh sejarah dari JimThompson, pria berkebangsaan Amerika yang menjadi pengusaha Thai Silk paling terkenal di Thailand. Kisah uniknya adalah Jim Thompson menghilang secara tiba-tiba pada tahun 1967 di Cameron Highland, hingga sekarang tetap menjadi misteri dan hanya menyisakan sebuah rumah dengan design yang khas. 


Setelah check-out saya menitipkan koper ke pihak guest house karena ingin menikmati 1,5 jam Thai Massage depan guest house. Pijatannya lumayan enak hingga saya tertidur dan perlu mengeluarkan 500  B untuk mendapatkan kenikmatan relaksasi ini. 

Dalam perjalanan menuju Don Mueang, saya sangat merekomendasikan Anda pecinta seni untuk mengunjungi MOCA (Museum of Contemporary Art) Bangkok. Padahal saya kesana dari jam 1 hingga jam 5 tapi rasanya belum puas juga karena tempat seni ini terdiri dari 5 lantai dan setiap lantainya dipenuhi tema tertentu mulai dari lukisan, patung, dan berbagai instalasi. Dengan 150 B Anda bisa melihat berbagai karya seni buatan seniman lokal maupun internasional yang berjumlah hampir 800 karya. Empat jam disana serasa bukan apa-apa dan saya merasa terlalu terburu-buru jadi tidak bisa menikmati sepenuhnya. Favorit saya adalah Salvador Dali karya Watchara Prayoonkum yang akan menyambut Anda ketika masuk. Ahh jika saya ke Bangkok lagi saya pasti akan menambahkannya dalam daftar tujuan.  




Itulah perjalanan saya selama tujuh hari di Bangkok dan Ayutthaya. Untuk Grand Palace dan sekitarnya pasti sudah biasa bagi para turis, namun memasukkan Ayuttha dan MOCA adalah hal yang paling menyenangkan saya dalam petualangan kali ini dan pasti sangat saya rekomendasikan bagi Anda yang sebentar lagi berkunjung ke Siam. 

Bangkok menjadi destinasi pertama saya dalam menjalani solo traveling. Tahun 2017 ini adalah resolusi tersendiri saya bisa mengeksplore tempat-tempat yang sangat saya inginkan tanpa harus ketergantungan dengan orang lain. Karena Bangkok merupakan tempat yang ramah untuk para turis jadi rasanya ingin kemanapun tidaklah sulit.

Persiapan

Penerbangan saya menggunakan Air Asia dari Soekarno-Hatta ke Don Mueang. Seingat saya tidak ada harga promo yang saya dapat sehingga ticket return mencapai lima jutaan. Karena kepalang boros di flight akhirnya untuk akomodasi saya pilih yang murah saja. Mencari-cari di Agoda dapatlah Wendy House di kawasan Kasem San 1 Alley Rama 1 Rd, yang pastinya di kalangan travelers sudah lumayan dikenal karena lokasinya yang strategis, dekat dengan kawasan perbelanjaan Siam District dan juga National Stadium BTS. Jadi jika ingin berbelanja murah bisa ke arah MBK atau jika ingin lebih elite bisa ke Siam Square dan sekitarnya.

Saya book guest house ini dari tanggal 25 Juni sampai 1 Juli dengan total biaya 2,6 juta dan saya siap menjelajah.

Wendy House




Hari-1 Keberangkatan
25 Juni 2017

Karena flight saya baru pukul 1 siang, paginya saya masih bisa cek lagi apa saja yang perlu saya bawa. Urusan pakaian saya lagi-lagi tidak ambil pusing, cuma 3 pasang pakaian simple tapi kali ini saya harus bawa topi untuk properti foto (hehehe). Paling utama saya sudah mengaktifkan XL Pass dari Jakarta sehingga tidak perlu lagi membeli GSM card sesampainya disana. Paket yang saya beli untuk 7 hari seharga Rp200.000. Bagi yang belum tahu, caranya mudah sekali, tinggal tekan *123*747# lalu Anda akan mendapatkan notifikasi pengaktifan paket. Enaknya XL Pass ini hampir menjangkau semua destinasi liburan populer masyarakat Indonesia, termasuk Thailand. Di Thailand sendiri saya mendapat koneksi dari DTAC dan sinyalnya sangat bagus, bahkan ketika saya di Ayutthaya sekalipun.

Saya tiba di Don Mueang pukul 4.20 PM (tidak ada perbedaan waktu dengan Jakarta). Untuk moda transportasi ke pusat kota Bangkok saya memilih Uber dengan tarif sekitar 300 Baht.
Setelah check-in dan merapikan barang (which is saya lumayan suka dengan guest house ini yang cukup bersih) saya pergi ke MBK untuk mencari makan malam dan juga membeli Rabit Card plus extra top up di National Stadium BTS untuk keperluan esok harinya seharga 200 B.


Hari-2 Grand Palace dan Wat sekitarnya
26 Juni 2017

Ini wajib sekali tidak bisa dilewatkan. Apa gunanya ke Bangkok tanpa melihat Grand Palace. Pagi-pagi saya sudah sampai di Saphan Taksin BTS lalu jalan kaki menuju Central Pier dan ambil boat berbendera orange ke Tha Chang (15 B). Anda akan keluar dari Tha Chang Market lalu jalan sedikit untuk menuju gerbang putih Grand Palace.

Grand Palace baru dibuka sekitar jam 10 jadi saya masih menunggu beberapa saat sambil melihat ceremony para pasukan pengawal istana. Oh ya, jika Anda mengkhususkan satu hari ini untuk mengunjungi berbagai wat di Bangkok, jangan lupa selalu sediakan kain atau lengkapi diri Anda dengan pakaian yang tidak pendek atau terbuka.

Setelah membeli tiket masuk seharga 500 B, mulailah saya berkeliling yang tampaknya langsung sulit mengambil foto karena para wisatawan sudah sangat penuh. Ada beberapa bagian istana yang bisa Anda lihat dan tinggal keliling saja sampai Anda puas.




Tidak jauh dari Grand Palace pastinya Anda juga bisa memasukkan Wat Pho The Reclining Buddha dalam jadwal Anda karena cukup jalan kaki 5 menit (tiket masuk 100 B).


Jika Anda kuat berjalan kaki, sebenarnya Anda sangat bisa mengeksplore beberapa kuil lainnya di sepanjang sungai Chao Phraya yang membelah Bangkok. Tapi karena saya masih punya banyak wat lainnya dalam list saya, biasanya setelah kuil ke empat kita sudah mulai bosan karena rasanya semuanya jadi terlihat mirip. Alhasil saya balik lagi ke Tha Chang dan menyeberang ke sisi sebelah sungai dengan boat putih untuk ke Wat Arun.

Saya justru lebih suka di Temple of Dawn ini ketimbang Grand Palace. Perpaduan kuil bergaya Khmer (Kamboja) menurut saya sangat artistik. Dominasi warna putih dan langit biru cerah ketika saya datang membuat pemandangan yang sangat kontras dan cantik. Meskipun ada bagian yang sedang diperbaiki menurut saya tidak mengurangi rasa kagum. Belakangan jika Anda ke Ayutthaya, Anda juga akan banyak menemukan kuil dengan style yang sama.



Untuk kembali ke hotel, saya menggunakan lajur yang sama ke Saphan Taksin lalu menyempatkan ke MBK mencari makan dan Counterpain karena rasanya kaki sudah terlalu pegal.


Hari-3 Sejarah Thailand dan Asiatique
27 Juni 2017

Kali ini saya menggunakan Uber saja menuju ke arah Democracy Museum untuk foto-foto sebentar dan kemudian mampir sebentar ke Rattanakosin Exhibition Hall dan The Queen's Gallery. Namun karena kedua yang terakhir masih tutup ketika saya datang akhirnya saya masuk ke Lohat Prasat Metal Castle atau disebut Wat Ratchanadda dengan tanpa biaya. Amazing, arsitekturnya unik dihiasi black metal yang mengelilingi castle sebagai simbol enlightment. UNESCO juga dalam tahap mengkajinya sebagai The World Heritage Site karena keunikan tersebut.



Beberapa spot foto dan wat bisa Anda temukan disini yang sulit saya sebutkan hanya karena random masuk dan sekali lagi bentuknya ya begitu-begitu saja. Jika Anda berjalan lebih jauh (hanya 10 menit paling) Anda akan menemukan The Giant Swing di tengah keramaian lalu lintas. Anda bisa coba mengelilingi bundaran tersebut dan mencari titik paling bagus bagi foto Anda.


Karena masih siang sekitar jam 1, setelah menguyah beberapa makanan kecil sepanjang jalan, saya kembali lagi ke arah Democracy Monument dan tidak jauh dari sana ada museum King Prajadhipok (masih edisi free). King Prajadhipok atau Rama VII memerintah pada masa yang cukup sulit ketika terjadi revolusi pada tahun 1932 yang ingin menggantikan sistem absolute monarchy di Siam. Di museum ini Anda akan banyak membaca kisah hidupnya, mulai dari masa kecil, perjuangan militer, hingga kisah cintanya dengan The Queen Rambai Barni yang romantis. Saya menghabiskan waktu cukup lama disana sambil terkagum-kagum dan banyak sekali hal yang bisa dipelajari.


Kembali jalan sedikit Anda bisa berkunjung ke Wat Saket atau Golden Mount dengan 20 B. Lumayan juga untuk naik ke atas, tapi lebih karena Bangkok luar biasa panas dan lembab. Sampai atas saya cuma terengah-tengah sambil memperhatikan beberapa biksu muda yang berlari-lari dengan cerianya.

Saya sempatkan juga ke Wat Traimit dengan Golden Buddha yang impresif dan sedikit jalan ke arah Chinatown namun karena masih sore jadi suasana Chinatown yang biasanya gemerlap belum terasa. Jadilah saya putuskan mulai mengarah ke Asiatique dengan Uber untuk mencari makan malam dan hunting foto sungai Chao Phraya di malam hari. Bagi Anda yang ingin berbelanja seperti baju, cinderamata, hingga Thai Silk juga bisa dicari di lokasi ini.



Hari-4 Berdoa untuk Jodoh dan Shopping di Platinum Fashion
28 Juni 2017

Salah satu rekomendasi belanja baju murah di Bangkok adalah Platinum Fashion yang bisa Anda capai dengan jalan kaki dari daerah Siam Square. Sebelum sampai disana saya ambil beberapa foto dulu di Wat Pathumwanawam, Erawan Shrine, Ganesh Shrine, dan Trimurti Shrine. Lokasi yang belakangan ini banyak dikunjungi warga bahkan sejak pagi. Kebanyakan membawa bunga mawar dan beberapa buah. Tahu kenapa? Karena lokasi ini diyakini bisa membawa berkah urusan cinta. Jika Anda berdoa sungguh-sungguh dan membawa mawar, maka tidak lama lagi Anda bisa bertemu dengan jodoh Anda. Sudah banyak cerita dan kesaksian dari para warga yang berdoa dan akhirnya kini sudah menikah. Percaya atau tidak kembali lagi kepada Anda.

Kalo urusan belanja janganlah ditanya. Setengah hari saya hanya berputar-putar di Platinum Fashion mall dan mengantongi banyak baju untuk dibawa pulang. Harganya super murah. Banyak yang hanya kisaran Rp80.000, padahal kalau kita membeli dari online shop harganya bisa jadi sudah diatas Rp200.000. Saya mendapatkan beberapa outerwear dan juga atasan floral yang sedang trend.

Baca juga pengalaman saya ke Ayutthaya dan menyaksikan kejayaan masa lampau Siam yang melegenda disini.

Karena tanggal 17 Agustus 2017 lalu jatuh pada hari Kamis, maka saya memutuskan untuk short escape ke Malaysia. Seperti biasa flight yang saya ambil oleh Air Asia dengan biaya Rp885.000 pulang pergi.




Persiapan
Jadwal keberangkatan saya ambil untuk penerbangan pukul 7 malam dari Soekarno-Hatta. Setelah itu saya mulai mencari-cari opsi hotel yang dekat akses transportasi di Agoda. Beberapa pilihan hotel di daerah Bukit Bintang bisa Anda pertimbangkan karena dekat ke tujuan wisata utama.
Apakah Anda tipe traveler yang sangat mempertimbangkan fasilitas hotel? Atau Anda punya prinsip ‘yang penting ada tempat buat tidur’? Biasanya saya tipikal yang kedua, tapi kali ini saya insist mencari hotel yang ada bathtub. Saya pikir perjalanan kali ini adalah reward untuk saya sendiri sehingga pantas dinikmati dengan sedikit berleha-leha. Bayangkan setelah seharian jalan-jalan dengan kaki yang pasti sudah pegal, ada tempat berendam air hangat di hotel yang siap menanti. Kemudian sambil menonton drama Korea pula. Ah surga.
Awalnya saya memesan hotel Alpha Genesis untuk tanggal 17-21 Agustus 2017 dengan harga kisaran Rp800.000-an ribu. Happy sekali tadinya karena jarang-jarang bisa mendapat hotel dengan bathtub dengan harga Rp200.000-an ribu per malam. Namun begitu booking issued ternyata tanggal yang tertera adalah untuk Januari 2018. Baru sadar harga promo tersebut hanya berlaku untuk periode menginap tahun depan. Yah,, alih-alih membatalkan booking, saya memilih ubah tanggal saja dengan konsekuensi membayar 2x lipat lagi. Jadi aktualnya harga per kamar di Alpha Genesis adalah Rp700.000-an ribu per malam. Ok, saya tidak akan merusak nuansa liburan dengan penyesalan seperti ini.



Hari-1 Tiba di Kuala Lumpur
Saya tiba di KLIA 2 sekitar pukul 10 malam dan dengan proses imigrasi yang kurang cekatan akhirnya baru keluar bandara sekitar 11.30 malam. Sudah malam begini saya terlalu malas menaiki KLIA Express, jadinya tinggal buka aplikasi Uber dan tunggu beberapa menit. Meskipun Grab lebih laku di Malaysia, kemanapun saya pergi biasanya saya lebih prefer dengan Uber saja.
Perjalanan dengan mobil memakan waktu sekitar lebih dari 30 menit dan langsung mendarat di lobby Alpha Genesis. Untuk fasilitas hotel sendiri terbilang standar saja (kecuali tentu saja untuk bathtube nya yang pasti saya gunakan semaksimal mungkin). Jadilah malam itu langsung istirahat untuk petualangan esok hari.
Uber KLIA2 – Bukit Bintang = RM 80

Hari-2: Belanja Fashion Sungei Wang
Meskipun saya membawa koper sedang, namun sebenarnya isinya hanya baju tidur dan sepasang baju cadangan. Liburan belakangan ini saya tidak ribet untuk packing, biasanya saya membeli baju di tempat tujuan saja, sekalian memuasakan hasrat belanja. Karena hotel Alpha Genesis sangat dekat dengan Sungei Wang, saya hanya perlu jalan kaki 10 menit dan seharian itu bisa bolak-balik beberapa kali untuk membeli fashion item.  
Setelah membeli secangkir kopi di Old Town White Coffee, saya langsung menghambur ke Sungei Wang dan menyusuri toko satu per satu. Kulot adalah item yang paling banyak saya cari dan sepasang sepatu untuk jalan yang lumayan nyaman. Selain itu mampir ke Watson untuk membeli beberapa item perawatan diri seperti masker, conditioner, dan hair remover cream. Karena Miniso Indonesia belum menyediakan perawatan kecantikan, jadilah saya membeli eyebrow pencil dan parfum disini (sungguh Anda mesti coba dua item ini, selalu saya beli setiap ada Miniso).
Fashion dan sepatu di Sungei Wang = RM 500
Perlengkapan perawatan diri di Watson dan Miniso = RM 250

Malamnya saya memilih jalan kaki ke Petaling street untuk mencari makan malam, kemudian jalan lagi ke Kasturi Walk dan Central Market tapi tidak ada yang menarik di beli. Justru saya terbawa jalan kaki lebih jauh lagi ke arah Merdeka Square karena saat itu Malaysia sedang menjadi tuan rumah untuk SEA Games 2017. Merdeka Square sudah dihiasa lampu terang benderang dan podium yang terlihat masih dalam tahap checking sana-sini.
Hingga malam hari saya pun kembali ke hotel dengan Uber (lagi-lagi, bare with me, untuk liburan biasanya saya memang tidak mau bercapek-capek).

Hari-3 Batu Caves dan Putrajaya
Tanggal 19 Agustus saya mulai perjalan lagi menyusuri Malaysia. Pagi-pagi saya sudah tiba di Stesen Bukit Bintang, membeli My Rapid card dan mengisi saldo secukupnya untuk petualangan dua hari kedepan. Dari Stesen Bukit Bintang saya mengarah ke KL Sentral dan rencananya pergi ke Batu Caves dengan KTM. Padahal saya sudah membeli KTM card terpisah namun tidak ada kejelasan kapan KTM tiba yang sepertinya dikarenakan gangguan jaringan.
Petugas KL Sentral menyarankan saya untuk untuk menaiki LRT ke arah Gombak, katanya Batu Caves tidak jauh dari sana. Benar saja, tidak lama saya sudah tiba di Gombak (sekitar 30 menit) lalu mencari taksi dan membayar sekitar RM11 untuk diantarkan hingga ke kuil Dewa Murugan tersebut. Sisa perjalan selanjutnya diisi menaiki tangga, terengah-engah, foto-foto, naik tangga lagi, sampai atas baju saya sudah basah dan ekspresi muka tidak bisa terkontrol lagi saking capeknya. Usia yang menua memang susah dihindari.
Selain Petronas, tentu saja Batu Caves adalah salah satu spot paling wajib dikunjungi jika ke Malaysia. Namun sama halnya dengan spot tourism pada umumnya, saking ramai sampai kadang susah dinikmati. Anda paham kan perasaan ketika sudah sampai dan melihat begitu banyak orang sampai-sampai ambil foto pun malas sekali (yah at least saya dapat foto sewa setinggi 43 meter yang terkenal itu).


Ok selanjutnya saya ajak Anda menyusuri tempat yang patut Anda kunjungi meskipun yang ini tidak sering dibicarakan pelancong Indonesia. Putrajaya, kota yang menjadi pusat kantor-kantor pemerintahan Malaysia dan didesain super modern dengan landmarks buatan yang mengagumkan. Kota ini adalah kota masa depan yang futuristik.


Menuju kesana saya balik lagi ke KL Sentral (kali ini dengan KTM yang juga berhenti sangat lama di Sentul karena gangguan lagi). Kemudian saya memilih menggunakan KLIA Transit untuk berhenti langsung di Putrajaya. KLIA Transit hanya sekali berhenti di Bandar Tasik Selatan sebelum tiba di Putrajaya. Setibanya disana saya langsung mencari counter taksi untuk menyewa taksi selama dua jam (RM 80) dan bebas keliling mana saja dengan driver juga bisa memberikan masukan tempat-tempat terbaik.
Saya mendapat driver yang sudah terlihat kakek-kakek tapi luar biasa ramah dan bercerita dia rutin ke Jakarta setiap tahunnya. Ia menunjukkan beberapa tempat yang bisa Anda jadikan referensi.

Taman Seri Empangan


Pusat Konvensyen Antara Bangsa
Palace of Justice
Seri Wawasan Bridge
Seri Gemilang Bridge
Perdana Putra
Pink Mosque


Tak terasa dua jam sudah berlalu dan saya kembali ke Stesen Putrajaya untuk meneruskan perjalanan kembali ke Bukit Bintang.
Taksi keliling Putrajaya + tip driver = RM90

Hari-4 Melaka, The World Heritage City
Awalnya saya pikir hari ke-4 hanya diisi mencari kafe baru di KL dan menikmati suasana dengan santai. Tapi mari kita cari pengalaman lain dengan mengunjungi Melaka or Malacca, the Worl Heritage City. Saya sarankan Anda sudah berangkat pagi-pagi karena perjalanan kesana memakan waktu 2-3 jam. Saya justru bangun kesiangan dan baru tiba di KL Sentral sekitar jam 10.
Untuk menuju kesana pertama saya ambil lagi KLIA Transit dan kali ini turun di Bandar Tasik Selatan. Selanjutnya jalan kaki ke TBS (Terminal Bersepadu Selatan) untuk mencari tiket bus ke Melaka. Jangan remehkan ketika saya sebut terminal bus. TBS ini terlihat sangat bersih dan modern, para pelancong antri dengan rapi untuk mencari tujuan tiketnya masing-masing, bahkan ada sistem boarding dan gate layaknya di airport. Untuk tujuan ke Melaka sendiri tersedia di semua counter, dan ada banyak penyedia bus kearah tersebut. Jam keberangkatan terdekat adalah pukul 11.45 dan saya memilih menggunakan salah satu bus acak saja. Plus nya lagi, jadwal bus selalu on-time, make sure Anda tidak ketinggalan.
Sepanjang perjalanan saya hanya tidur mengisi tenaga dan kurang lebih 1,5 jam akhirnya saya tiba di Melaka Sentral, terminal bus kepunyaan Melaka. Anda kira perjalanan berakhir disini? Belum, sabar. Anda masih harus menggunakan transportasi lanjutan ke pusat wisata Melaka. Jika ingin murah, bisa mencari bus Panorama dengan mengikuti petunjuk ke arah bus domestik. Karena saya anaknya tidak mau susah, kembali deh pakai taksi sekitar RM10.
Saya turun persis di Christ Church (atau Red Church) yang terkenal itu, karena dari jauh sudah kelihatan kawasan bernuansa merah yang klasik. Melaka disiang hari begitu panas, panas sekali dan ramai. Susah mendapat angle foto yang clean kalau begini, jadi dapatlah foto seadanya yang penuh dengan becak lokal dan juga lautan manusia dan mobil. Saya kemudian menyusuri santai kawasan Dutch Square, mencoba-coba makanan di Jonker Street, dan foto beberapa dinding yang terlihat unik.




Saya kembali lagi ke Melaka Sentral sekitar pukul 3.30 PM dan sampai sana hampir semua counter bus ke KL sudah sold out. Ini penting bagi Anda yang ke Melaka tanpa menginap, segera beli tiket balik ke KL begitu sampai. Untungnya masih ada keberangkatan jam 5 dari Melor Transline dan terlihat dalam perjalanan balik ini kursi bus semua sudah terisi, beda dengan saat berangkat tadi.
Saya sampai sekitar pukul 7.30 di Bukit Bintang, karena masih terang akhirnya mencari makan malam di Alor Street, sebelum beristirahat di hotel.
Bus PP Melaka-KL = RM22
Taksi mengantar ke Melaka Sentral = RM20

Hari-5 Kembali ke Jakarta
Tadinya saya ingin menuju ke KLOK coffee untuk menikmati secangkir kopi hangat, tapi batal dulu setelah mengurusi beberapa hal untuk keperluan kantor. Flight ke Jakarta pun tertunda terus, yang tadinya pukul 11, menjadi jam 1, dan baru benar-benar berangkat jam 2.



Bagi Anda yang mencari inspirasi perjalanan ke Malaysia, paling saya rekomendasikan adalah menyusuri Putrajaya. Serius, setiap sudut kota itu layak masuk Instagram Anda, sebuah kota yang benar-benar dipikirkan dengan baik dan impian masa depan. Patut di coba daripada Anda hanya berlama-lama di Kuala Lumpur.

Melaka juga pilihan yang baik, namun alih-alih hanya sebentar, ada baiknya Anda mencoba menginap disana barang semalam karena kabarnya suasana night market Melaka juga sangat ramai dan penuh makanan enak patut dicoba.