Perjalanan ke Hongkong dan Macau sebenarnya sudah saya lakukan tahun 2016 lalu. Karena saat itu saya belum terpikir mendokumentasikan semua perjalanan liburan dalam blogging, jadinya saya hanya mengingat sedikit saja proses yang saya alami dengan bantuan dokumentasi foto dan video. 
Meskipun tidak detail, mungkin bisa menjadi sedikit bantuan buat Anda yang sedang memilih kemana saja tempat yang harus didatangi jika berlibur ke daerah khusus China ini. 

Persiapan
Penerbangan saya saat itu menggunakan Air Asia rute Jakarta-Kuala Lumpur-Hongkong lalu pulang dari Macau. Pulang pergi perjalanan tersebut menghabiskan biaya sekitar 4 jutaan, termasuk bagasi.

Kemudian saya dan teman saya mulai mencari-cari lokasi hotel strategis tempat kami berinsitirahat. Banyak travelers yang sudah mengunjungi Hongkong menyarankan area Tsim Sha Tsui karena dekat dengan pusat keramaian dan tersedia banyak makanan serta transportasi yang berjarak dekat, terutama MTR. Akhirnya kami menemukan Cosmic Guest House yang berlokasi di gedung Mirador Mansion 54-64 Nathan Road, Tsim Sha Tsui. Dari peta tampak banyak restoran dan hanya beberapa meter dari Tsim Sha Tsui Station dan East Tsim Sha Tsui Station. 
Total harga untuk menginap selama 19-23 Nov 2016 sebesar Rp1.800.000an. Bare in mind bahwa biaya penginapan di Hongkong sangat mahal dan sangat kecil secara space. Rata-rata rate per malam akan jauh lebih tinggi dibanding ketika Anda mengunjungi negara lain karena memang harga tanah dan properti disana sangat, sangat, sangat mahal. 

Alamat:
12/F, F1, Mirador Mansion, 54-64 Nathan Road, Tsim Sha Tsui    

Sedangkan untuk di Macau kami memutuskan agar dapat tidur semalam dengan fasilitas agak memadai di hari terakhir. Jadilah kita menginap di Macau Masters Hotel, yang kalau dilihat dari map lokasinya dekat dengan kawasan kasino yang menjadi daya tarik utama Macau. Harga per malamnya sekitar Rp800.000.


Alamat:
162 Rua das lorchas, Macau City 

Untuk pertama kalinya juga saya menggunakan portable wifi selama perjalanan, instead of membeli simcard. Bagi Anda yang belum pernah mempraktekkan cara ini, sebenarnya proses terbilang mudah. Saya sendiri menggunakan Wi2Fly yang mencantumkan sudah menjangkau Hongkong dan Macau. Anda hanya perlu masuk ke websitenya www.wi2fly.com lalu pilih wilayah dan tanggal keberangkatan dan kepulangan. Sehari sebelum hari perjalanan maka kurir akan mengantar paket wifi lengkap ke lokasi Anda. Then you are ready for traveling.  

Hari-1 
19 November 2016
Saya dan teman saya berangkat ke Hongkong pada tanggal 18 November 2016 menggunakan pesawat Air Asia dengan transit di Kuala Lumpur selama lebih dari 7 jam (ini kita tidur di bandara saja demi menghemat biaya). Tibalah kami di Hongkong International Airport keesokan harinya pukul 10 pagi. Bergegas menuju area Tsim Sha Tsui dan check-in lalu istirahat sebentar. Sore harinya kami berjalan kaki menuju Victoria Harbour dan terutama ingin foto-foto sepanjang Avenue of Stars. Di lokasi ini Anda dapat menjumpai berbagai patung tokoh terkenal dalam dunia perfilman seperti Bruce Lee dan Anita Mui.





Jangan ragu untuk berjalan kaki disekitar kawasan ini karena Anda juga bisa menyempatkan diri untuk melihat Clock Tower tempat berkumpulnya para wisatawan, Hongkong Space Museum, dan Garden of Stars. 

Pada malam harinya kami makan malam di Ladies Market dan berhasil membawa pulang beberapa item fashion yang murah. Termasuk saya mendapatkan tas kulit dengan kisaran harga Rp300.000an. Super recommended untuk Anda yang bertujuan shopping.

Hari-2
20 November 2016
Hari ini kami dedikasikan untuk mengunjungi patung Big Buddha termegah Tian Tan di kawasan Ngong Ping Village, Lantau Island. Sampai pukul 9 pagi kami masih gegoleran malas bangun setelah menyantap samyang goreng yang rasanya entah kenapa enak banget. Padahal dari semua blog yang saya baca antrian ke Tian Tan akan sangat panjang, tapi dasarnya malas tidak bisa dilawan. Kemudian kami mengarah ke MTR Tung Chung untuk mencari tiket cable car. Sial tidak bisa ditolak karena cable car dalam maintenance sehingga jalan satu-satunya adalah menggunakan bus tidak jauh dari sana.
Dan saudara-saudara begitu kami sampai di lokasi antrian bus, langsung menganga. Antria bus no 23 sudah ga santai sama sekali, puuuuaaannnjang bener. Sudah mati gaya menunggu giliran naik bus, akhirnya berangkat jugalah kami dan menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam. Cuaca di Ngong Ping Village saat itu cerah sekali.



Menginjakkan kaki di area Ngong Ping Piazza, Anda akan disambut gerbang besar dan jalan menuju Big Buddha yang sangat indah dengan berbagai jejeran patung. Banyak juga sapi berkeliaran yang jadi objek bermain anak-anak kecil. Dari kejauhan Anda sudah dapat melihat patung tersebut diatas bukit karena memang ukurangnya sangat besar.



Siapkan energi lebih karena Anda harus menaiki 268 anak tangga untuk bisa melihat dari dekat kemegahan patung Tian Tan yang seluruhnya dari perunggu ini. Untuk mengurangi kelelahan, sambillah mengambil foto-foto ke arah Po Lin Monastery dan lembah yang indah. Lelah yang terasa tidak ada apa-apanya dengan pemandangan cantik di depan mata.





Setelah puas berfoto-foto, kami pun turun dan mencari cafetaria untuk makan makanan vegetarian. Rasanya enak dan menunya juga beragam, tapi tentu saja jangan lupa agar sisanya sampahnya dibereskan sendiri. Selain Tian Tan statue, di sekitar lokasi ini Anda juga bisa mengunjungi Po Li Monastery, Wisdom Path, Walking with Buddha show, dan tersedia beragam toko souvenir yang bisa Anda kunjungi. Karena hari sudah sore, kami bergegas untuk mengantri kembali menaiki bus. Ternyata antrian saat pulang sama saja, sehingga kami sampai di penginapan sudah malam dengan kaki sudah sangat pegal dan kaku.



Ikuti perjalanan Hongkong dan Macau selanjutnya disini.


Beberapa hari lalu saya baru saja menyelesaikan perjalanan saya ke Phnom Phen namun dari situ saya merasa belum puas menghabiskan sisa waktu akhir tahun dengan menjelajahi tempat-tempat baru. Selama menunggu pesawat saya ke Phnom Phen akhirnya saya mencari-cari di beberapa situs traveling untuk menjajaki ke manakah saya berikutnya. Situs Skyscanner mengarahkan saya untuk mendapatkan tiket paling murah ke Penang menggunakan situs via.com. Jadilah saya memesan tiket Jakarta ke Penang pada tanggal 30 Desember 2017 hingga 2 Januari 2018 menggunakan penerbangan Air Asia.

Selain soal penerbangan tentu saja saya harus menyiapkan yang namanya hotel tempat menginap saya selama tiga malam di sana. Mencari-cari di situs Agoda Akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada hotel G Inn di kawasan Macallister Road. Kawasan Macallister termasuk dekat dengan beberapa kawasan wisata di Georgetown terutama tentu saja tujuan utama saya adalah mural trail street dan dengan harga per-malamnya juga terbilang murah sekitar Rp440.000.




Hari-1 Keberangkatan
30 Desember 2017
Pesawat Air Asia saya seharusnya berangkat pada pukul 11.40 waktu Jakarta namun seperti yang sudah saya duga karena ini adalah musim liburan maka pasti potensi delay akan sangat besar. Dan ternyata benar sesudah saya mencapai terminal 2 bandara Soekarno-Hatta kemudian baru ada pengumuman bahwa pesawat akan delay dalam waktu 2 jam. Oke fine! Saya berusaha tetap tenang hingga kemudian pukul 02.40 PM kembali delay lagi karena pesawat masih menunggu izin mendarat dari pihak bandara. Tampak beberapa penumpang sudah mulai kehilangan kesabaran. Dan kami akhirnya baru benar-benar berangkat sekitar pukul 03.15 PM. Perjalanan Jakarta-Penang memakan waktu sekitar dua setengah jam.

Sekitar pukul 07.00 malam sampai Penang saya bergegas memesan Grab dan beranjak langsung ke hotel sekitar 30 menit dari bandara. Tidak ada agenda khusus saat itu dan saya langsung beristirahat untuk mempersiapkan agenda besok paginya.

Hari-2 Wisata Paling Common di Penang
31 Desember 2017

Hari ini saya sudah bangun sekitar pukul 06.00 dan rencananya saya akan jalan sekitar jam 07.00 namun melihat kondisi di luar jendela hotel ternyata jam 07.00 masih sangat gelap di Penang. Akhirnya saya menunggu hingga pukul 07.30 dan baru mulai melihat secercah cahaya serta beberapa penduduk mulai terlihat beraktivitas. Pagi ini saya sudah menjadwalkan untuk menjelajahi mural trail street yang paling terkenal di Penang. Sengaja saya taruh di pagi hari agar mengeksplor kawasan tersebut tidak terlalu panas dan masih sepi dari wisatawan.

Sebelum itu saya menyiapkan tenaga dengan mencari sarapan di pasar Chowrasta dekat dengan kawasan mural street. Sepiring vegan mie dan secangkir kopi siap mengawali hari saya di Penang.

Dari pasar Chowrasta ke mural trail street tidaklah terlalu jauh. Tujuan utama saya adalah Lebuh Armenian dan Lebuh Canon karena katanya di situlah yang paling banyak terdapat mural yang paling terkenal bagi para wisatawan. Beberapa tips bagi Anda yang juga ingin datang ke Penang dan menjelajahi karya seni ini:
1. Datanglah pagi hari sehingga lebih nyaman bagi Anda berjalan-jalan atau menaiki sepeda tanpa terlalu tersengat matahari.
2. Sebaiknya bekali diri Anda dengan map (biasanya hotel akan menyediakannya) sehingga perjalanan Anda menjadi lebih efektif.
3. Selalu aware dengan kondisi sekitar karena terkadang mural tersebut agak tersembunyi apalagi banyak mobil-mobil yang parkir di sepanjang jalan.




Selain mural, di kawasan ini Anda juga bisa melihat beberapa tempat keagamaan seperti Masjid Kapitan Keling, Yap Kongsi Temple, dan beberapa museum. Jadi sangat baik untuk menempatkan mural trail sebagai tujuan utama wisata Anda ke Penang.

Selanjutnya saya mengarah ke Fort Cornwallis. Sebenarnya dari beberapa review banyak yang mengatakan it's not worth to visit karena tidak banyak yang bisa dieksplore dengan tiket senilai 20 Ringgit. Saya pun membuktikan bahwa pernyataan itu benar. Jika Anda masuk kesana Anda hanya akan melihat beberapa cannon di sudut-sudut benteng dan di tengah-tengahnya terdapat area seperti panggung. Diluar itu Anda bisa melihat kearah port namun tidak lebih dari itu. Jadi jika Anda nantinya ingin mengunjungi tempat ini sebaiknya pikir-pikir dulu untuk menghemat budget anda. Disekitar Fort Cornwallis terdapat juga kawasan Padang Kota Lama yang cocok untuk dikunjungi jika anda penyuka arsitektur.






Hari sudah siang dan saya ingin mencari pengisi perut. Terpikirlah untuk mengunjungi Prangin Mall sambil membeli beberapa hal. Ternyata tempatnya lumayan sepi dimana terlihat banyak toko-toko yang tutup. Mall yang dibuka pada tahun 2001 ini hanya terlihat ramai di lantai bawah dengan adanya berbagai gerai elektronik. Setelah mengambil uang di ATM, makan siang dan membeli beberapa hal, akhirnya saya memesan Grab untuk pergi ke Entopia.



Entopia ini letaknya cukup jauh dari kawasan wisata utama di Penang, sekitar 30 menit lebih untuk mencapai ke sana dengan mobil. Entopia adalah objek wisata yang lebih tepat untuk keluarga karena disini Anda bisa mengajak putra-putri anda untuk bermain sambil belajar tentang serangga dan juga beberapa binatang lainnya terutama sekali yang menjadi daya tarik utama adalah kupu-kupu. Anda bisa mempelajari berbagai ilmu tentang kupu-kupu dan serangga, berfoto bersama kupu-kupu yang berkeliaran bebas di kawasan tersebut, namun yang menjadi permasalahan adalah tiketnya lumayan mahal yaitu 65 Ringgit untuk sekali masuk. Tadinya kalau tempat ini tidak jauh saya pikir saya tidak usah masuk tapi ya sudahlah sudah terlanjur sampai.

Lima belas menit dari Entopia terdapat wisata Batu Ferringhi yaitu pantai yang paling populer di kawasan Penang. Batu Ferringhi layaknya Kuta kalau di Bali jadi merupakan kawasan pantai pasir putih yang landai sehingga banyak difavoritkan oleh wisatawan asing untuk berjemur sedangkan kalau yang saya lihat orang-orang dengan wajah khas Melayu seperti saya lebih memilih untuk bermain air kemudian mencoba olahraga air seperti banana boat atau jetski.



Karena liburan efektif saya di Penang hanya dua hari, jadi saya harus memampatkan banyak agenda dalam satu hari. Kali ini setelah dari pantai saya mengarah ke Straits Quay Marina yang sebenarnya saya agendakan untuk menikmati malam tahun baru. Saya lihat di area tersebut akan ada acara pesta lighting dan laser yang mungkin bagus untuk dinikmati pada malam pergantian tahun baru. Di Straits Quay ini juga terdapat mall yang sebenarnya sangat eksotis karena langsung berhadapan dengan pantai dan banyak yachts yang menepi sehingga menambah ciri khas tempat ini.




Saya akhirnya membatalkan rencana untuk berlama-lama di Straits Quay dan justru teringat satu lokasi yang saya lewati sewaktu perjalanan dari bandara. Persis di jalan Sultan Azlan Shah, Sungai Nibong, sudah terlihat lampu-lampu dan bianglala yang menarik perhatian. Setelah saya cari tahu dari internet ternyata sejak 25 November 2017 digelar yang namanya Pesta Pulau Pinang, sebuah acara tahunan dimana selain Anda bisa berbelanja banyak hal, juga terdapat atraksi boxing, muaythai, dan berbagai wahana menarik. Tiket masuknya hanya 3 Ringgit dan saya kekenyangan mencoba banyak jajanan. 
Khusus untuk pasar malam seperti ini terutama di kawasan ASEAN, selalu membuat saya tertarik untuk menunjunginya. Jauh lebih menggoda ketimbang saya menjajaki night life khas para wisatawan dengan musik keras. Disinilah tempat Anda bisa merasakan energi penduduk lokal dan bagaimana mereka berinteraksi.




Hari-3 Kek Lok Si Temple
1 Jan 2018



Hari pertama di tahun 2018 dan saya kali ini sudah berada di the one and only Kek Lok Si Temple. Jam tujuh pagi saya sudah berada di dalam taksi dan rencananya saya ingin sarapan di sekitar area temple tersebut. Sayangnya Kek Lok Si baru dibuka sekitar jam 08.30 dan untuk menuju area yang menjual makanan Anda harus berjalan cukup jauh. Jadi ya sudahlah saya menunggu dengan sabar hingga lebih dari satu jam kemudian.
Landmark atau ikon yang paling dicari di tempat ini adalah dua di sisi kira dan kanan. Di bagian kiri Anda akan menemukan Kuan Yin statue yang sangat masif setingga 30 meter. Keseluruhan patung terbuat dari perunggu dan baru diselesaikan pembangunannya pada tahun 2002. Sulit sekali menempatkannya dalam foto dari bawah hingga atas karena sangat besar.



Pada sisi lainnya terdapat Rama pagoda dengan ketinggian juga sekitar 30 meter. Uniknya dari pagoda ini selain warnanya yang mencolok dibanding bangunan lain, Rama Pagoda juga memiliki design yang terdiri dari kombinasi struktur khas pagoda China dibagian bawah, disusul Thailand pada bagian tengahnya, dan terakhir khas Myanmar (Burma) dibagian ujung. Anda juga bisa masuk ke pagoda dan akan menemukan patung Buddha yang berbeda di setiap lantai.



Menggunakan Grab (lagi-lagi) saya kembali turun ke kawasan Pasar Air itam laksa dan membeli semangkuk mie serta susu kedelai untuk brunch. Tanpa berlama-lama saya langsung menuju ke Penang Botanical Garden untuk mengambil beberapa foto setelah itu.

I don't want to throw so much negativity tapi setelah mengunjungi Penang Botanical Garden saya menyadari tidak banyak yang bisa dieksplore. Tidak banyak flora yang bisa ditemukan dan majority yang datang kesini adalah penduduk lokal yang sedang berolahraga. Setelah berkeliling sebentar saya pun kembali mengarah ke pusat kota dan layaknya gadis urban saya ingin mampir ke Gurney Plaza dan Gurney Paragon. Kedua mall ini saling bersebelahan dan konsepnya sama seperti Straits Quay dimana Anda bisa duduk di sebuah restoran sambil menikmati pemandangan ke laut.

Kunjungan terakhir saya terkait pasar malam adalah Macallum Night Market yang berlokasi di Lintang Macallum 1. Penang adalah surga night market karena terdapat beberapa lokasi yang bisa Anda kunjungi di waktu berbeda. Macallum Night Market adalah salah satunya di hari Senin. Meskipun tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai, cukup untuk Anda mencicipi beberapa jajanan bagi para hawkers hunters.




Itulah pengalaman saya di Penang selama efektif dua hari untuk traveling. Sebenarnya masih banyak tempat yang bisa dieksplore di kawasan ini. Misalnya Anda juga bisa mengunjungi beberapa rumah peranakan museum dan kontemporer destinations seperti trick eye museum. Saya juga melewatkan Butterworth yang memiliki Temple of Nine Emperor. Semoga dilain kesempatan bisa menikmati eksotisme Penang kembali, dan semoga tulisan ini bisa membantu Anda menyusun rencana liburan ke Penang.

Keep exploring Wanderers!

Berburu tiket pesawat dan hotel pada peak season seperti menjelang akhir tahun sebenarnya tidaklah menyenangkan. Harganya pasti sudah sangat melambung dan hampir dimana-mana sudah penuh. Namun karena rutinitas kantor yang terbilang penat, saya pikir "sudahlah agak overbudget kali ini, yang penting bisa menyenangkan diri sejenak". Bolak balik buka situs travel, airlines, dan cek beberapa akun Instagram langganan tampaknya semua harga sudah tidak masuk akal. Yang saya temukan harganya masih terjangkau hanya tujuan Phnom Penh melalui situs Expedia. Saat saya membeli bertepatan dengan Harbolnas 12.12 dan ada penawaran Flash Deal, sehingga total untuk return ticket bersama hotel tiga malam sebesar Rp.5.200.000 (harga normal di peak season bisa mencapai Rp.6.250.000).


Persiapan

Beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan mata uang yang saya butuhkan. Karena flight akan transit tiga jam di Kuala Lumpur maka saya perlu Ringgit, yang saya ambil dari sisa perjalanan ke Malaysia sebelumnya. Sedangkan modal selama empat hari di Phnom Penh menggunakan USD (hehehe) ini pasti biaya hidup bakal lebih mahal lagi. Jadi jika Anda pergi ke Kamboja, intinya penduduk disana menggunakan dua mata uang dalam kehidupan sehari-hari. Dollar Amerika sangat diterima, disamping ada Riel yang biasanya lebih banyak dikeluarkan untuk nilai pembelanjaan lebih kecil. Yang seperti Rupiah, nilainya terbilang rendah.

Penerbangan saya menggunakan Air Asia, baik untuk keberangkatan maupun saat pulang, dimana jamnya saya yakin akan menguras tenaga juga.  Pada saat keberangkatan boarding time menunjukkan pukul 4.20 AM, yang mana berarti saya sudah harus datang lebih awal dan sialnya sehari sebelumnya saya tidak bisa pulang ontime, jadi dari kantor saya langsung bergegas packing (meskipun hanya satu tas kecil) namun saya lumayan ribet untuk bolak-balik re-checking untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Akhirnya baru istirahat jam 11 malam dan sudah bangun lagi jam 2 keesokan harinya.

Hari-1 Keberangkatan
23 Desember 2017

Dengan mata masih sangat mengantuk, saya lanjutkan tidur di pesawat lelap sekali. Begitu juga ketika sampai di KLIA 2. Membeli kudapan salad di satu restoran dan akhirnya kembali tidur menunggu boarding. Meskipun mengalami keterlambatan flight selama sekitar setengah jam, akhirnya dua jam kemudian saya tiba di Bandara International Phnom Penh sekitar pukul 1.30 PM.

Jika dalam negara ASEAN saya selalu mengandalkan XL Pass untuk koneksi selama traveling, kali ini saya tidak beruntung. XL Pass di Kamboja harusnya menggunakan jaringan provider Smart namun sinyalnya buruk sekali. Untuk membuka satu tab browser bisa loading sangat lama. Akhirnya saya pasrah, tadinya keluar bandara niatnya menggunakan Uber menuju hotel, kali ini saya gunakan taksi saja.
Taksi dari bandara ke hotel $15

Hotel saya bernama hotel Mito, dekat dengan Royal Palace dan juga Mekong River yang menjadi pusat turis di Phnom Penh. Setelah mandi saya istirahat sebentar karena mau jalan saat itupun rasanya Phnom Penh terlalu panas untuk dijelajahi.

Hotel Mito


Sore hari saya memanggil tuktuk depan hotel untuk menuju Royal Palace. Tujuan kali ini hanya ingin mengambil beberapa foto karena suasana istana lebih dramatis saat sore menjelang. Bagi Anda yang ingin masuk menjelajahi dalam istana maka Anda harus datang saat pagi hari (tapi jangan bayangkan seperti palace di Thailand).
Royal palace atau dalam bahasa Khmer-nya Preah Barum Reachea Veang Chaktomuk Serei Mongkol, sore ini sudah penuh dengan masyarakat dan turis yang dari sekedar duduk, makan di sepanjang sungai Mekong, bermain dengan merpati, hingga berolah raga. Jika Anda ingin hunting foto human interest bisa datang kesini menjelang sunset. I got some good shots too. Check this out!



Hari-2 Sad Story of Khmer Genocide
24 Desember 2017

Malam sebelumnya saya dibantu resepsionis hotel untuk memesan tuktuk spesial one day trip. Biasanya hotel sudah bekerja sama dengan driver tuktuk tertentu, jadi jangan takut bertanya untuk meminta bantuan.
Saya beruntung mendapat driver yang sangat ramah, Mr Dara, begitu sayup-sayup bagaimana dia mengucapkan namanya, tapi saya yakin ini salah. Jam 9 dia sudah siap mengantar saya ke beberapa tempat. Pertama driver mengantar saya menuju Central Market karena saya butuh membeli gorilla pod yang lupa saya bawa dan juga mencari sarapan ringan. Jika Anda di Kamboja, jangan habiskan waktu dengan makan makanan hotel saja. Coba jelajahi street foods yang berada sepanjang jalan, dijamin tidak ada yang tidak enak.

Perut dan tenaga sudah terisi, saatnya perjalanan ke Killing Fields di daerah Choeung Ek yang memakan waktu lama juga. Jika Anda seperti saya menggunakan tuktuk, sebaiknya siapkan masker karena jalan menuju kesana penuh debu dan beriringan dengan bus-bus besar juga.
Tiba di Choeung Ek Anda perlu membayar tiket masuk sebesar $6 dimana petugas kemudian memberikan Anda audio-guide dan bisa memilih bahasa Inggris. Setiap spot akan ada nomor khusus dimana Anda bisa mulai menekan tombol demi tombol dan mengikuti cerita keseluruhan.




Jika Anda sudah pernah membaca sejarah dengan kekejaman tentara Khmer dimasa Pol Pot, maka mendatangi tempat ini seperti membuka mata semakin lebar bahwa how cruel human can be. Bagaimana bisa anak-anak disiksa hanya karena ketakutan penguasa akan adanya pembalasan dari keturunan korban. Bagaimana bisa orang-orang tersebut membodohi orang-orang lugu, orang-orang yang hidupnya sudah sangat susah dan kelaparan, menjanjikan mereka hidup yang lebih baik, lalu menculik mereka, dan menyiksa mereka hingga meninggal. Prinsip Pol Pot bahwa lebih baik salah membunuh orang yang tak bersalah daripada musuh lolos sangat-sangat mengerikan. Tour ini akan membawa Anda satu per satu ke setiap titik yang penting dan menggambarkan kengerian yang dialami penduduk tak berdosa saat itu. Mulai dari diturunakan dari truk, disiksa dengan berbagai alat, dibubuhi cairan kimia agar tidak berbau, pohon untuk membunuh anak-anak, hingga ada The Magic Tree untuk menggantung speaker dengan nyanyian sangat keras, sehingga penduduk sekitar tidak pernah tau telah terjadi pembantai ribuan orang didekat rumahnya. Sungguh sangat mengerikan, saya bahkan tidak bisa tersenyum di tempat ini.

Tempat selanjutnya bahkan saya tidak kuat dan memilih keluar karena suasana yang suram sehingga melihat foto-foto korban yang tidak bersalah membuat saya menangis. Itulah Prison S21 atau sering disebut Tuol Sleng Genocide Museum. Sama halnya dengan Killing Fields, Anda akan dibekali audio-guide di setiap titik. Tuol Sleng Genocide Museum awalnya adalah sekolah, bisa dilihat struktur bangunannya terdiri dari blok-blok luas dan bertingkat. Ada empat blok utama disana dan Anda akan dipandu ke setiap ruangan yang pada umumnya berisikan alat-alat penyiksaan dan paling menyesakan dada adalah foto-foto para korban di setiap ruangan. Tatapan mata mereka polos sekali, yang mana sekali lihat saya akan merasa mereka adalah orang yang lugu, dalam hidupnya saya yakin yang penting kebutuhan dasar terpenuhi. Apalah politik bagi orang-orang ini, untuk makan saja sudah sangat susah. Tidak saja laki-laki muda, wanita, anak kecil, bahkan orang yang sudah renta pun ada dalam jejeran foto itu. Saya memilih keluar gedung dan duduk di bangku-bangku sambil mendengarkan audio. This trip so depressing for me. Tapi dua tempat ini akan membuka mata kita semua, bagi Kamboja Pol Pot dan genosida adalah kekejaman masa lalu, namun luka mereka adalah pelajaran sangat penting bagi negara manapun. Jangan sampai itu terjadi di negeri kita, jangan! Negara, pemerintah, penguasa, harus berpikir sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat.


Berikutnya karena masih cukup waktu, saya minta diantar ke Wat Phnom yang memiliki jam besar di depannya. Anda cukup membayar $1 dan bisa melihat struktur bangunan khas disana. Tidak berlama lama disini saya kembali ke hotel untuk istirahat.


Jika Anda suka keluar malam saat liburan, coba datangi Phnom Penh Night Market dekat Palace. Tempatnya memang tidak besar namun lumayan bisa berburu berbagai street foods dan minuman, serta saya sempat membeli beberapa pakaian dan kain yang rencanya saya pakai keesokan harinya. Worth to visit.

Hari-3 Coffee Hopping
25 Desember 2017

Meskipun hari ini adalah hari Natal, namun karena mayoritas penduduk Kamboja tidak beragama Nasrani maka tidak banyak keriuhan yang terlihat sepanjang jalan. Hanya tampak berapa hotel memang memasang ornamen-ornamen Natal di lobby untuk menyemarakkan suasana.

Pagi ini saya sudah siap jam 8 untuk mencari kopi di beberapa lokasi. Saya mulai dari Java Cafe & Gallery yang lokasinya tepat disebelah Independence Monument.


Berlanjut dengan Uber saya mengarah ke Orussey Market dan mencari area food court. Kabarnya lokal kopi di Kamboja tergolong enak dan setelah saya menentukan dimana saya membeli kopi (ada banyak penjual disana), benar saja saya jadi ketagihan. Campuran kopi dan susunya benar-benar gurih. Harus dicoba jika Anda pecinta kopi.





Saya balik lagi ke arah Independence Monument dan berjalan kaki sepanjang area tersebut hingga ke palace karena beberapa spot layak untuk difoto dengan beberapa bangunan penting.  Tadinya berniat membeli tiket masuk ke palace namun kejadian tidak mengenakkan terjadi dan membuat saya berpikir sebaiknya saya pergi dari area situ daripada keamanan terancam. Jadilah saya buru-buru menepikan tuktuk dan meluncur ke AEON mall.

AEON mall Phnom Penh tidaklah terlalu besar namun sangat padat pengunjung. Ada berbagai makanan terutama dilantai 2 dan pakaian di lantai 1. Tadinya saya harap melihat ornamen Natal yang menakjubkan untuk difoto-foto namun ternyata tidak juga spesial. Alhasil setelah menyantap semangkuk Tom Yam saya balik lagi ke hotel. Phnom Penh sore itu sudah gerimis kelabu.

Hari-4 Phnom Penh in a glance
26 Desember 2017


Pagi ini saya masih tidak menyerah mencari kopi. Salah satu yang banyak direkomendasikan adalah Feel Good Coffee dikawasan Phsar Kandal. Jam 8 pagi saya sudah disana dengan segelas mochachino panas dan egg benedict padat untuk mengganjal perut. Lagi-lagi Phnom Penh sudah basah oleh cucuran hujan dari malam hingga pagi itu. Itu tandanya saya sudah harus bersiap-siap mengemas semua barang dari hotel.


Alamat tempat ngopi di Phnom Penh:

Java Cafe & Gallery
56 Sihanouk Blvd, Samdach Preah Sihanouk Boulevard, Phnom Penh, Cambodia

Orussey Market
Lantai dasar
Street 182 Oknha Tep Phan | Orussei 1 Commune, Phnom Penh, Cambodia

Feel Good Coffee
Street 136 | #79, Phnom Penh Phsar Kandal 1, Cambodia

Meskipun singkat, ada beberapa hal yang bisa saya bagikan bagi Anda yang merencanakan menuju Phnom Penh.
1. Sebaiknya kombinasikan liburan Anda ke kota lainnya, terutama Siam Reap. Diluar wisata sejarah dan night life, sebenarnya tidak banyak yang bisa dieksplore.
2. ‎Akan lebih baik jika Anda stick to satu driver tuktuk untuk mengantar Anda kemana-mana. Memberhentikan tuktuk sendiri lebih sering membuat saya jadi membayar lebih mahal.
3. ‎Saya lebih prefer menggunakan tas punggung dengan berbagai kantong sehingga bisa menaruh barang-barang berharga pada kantong lebih dalam. Pihak hotel selalu mengingatkan agar saya menjaga barang dari pencuri dan itu meningkatkan tingkat kewaspadaan diri.

Bagi Anda yang ingin mengikuti setengah perjalanan awal saya di Bangkok bisa mengikuti link ini


Hari-5 Ayutthaya yang Melegenda
29 Juni 2017

Saya tidak menyesal memutuskan pergi ke Ayutthaya seharian ini karena benar-benar luar biasa. Meskipun panas dan melelahkan, tapi saya selalu mengagumi arsitektur lampau yang banyak dipengaruhi Khmer atau gaya Kamboja dengan Prang menjulang tinggi belasan meter. Benar-benar menunjukkan bahwa Siam adalah sebuah peradaban yang memegang peranan penting di Asia Tenggara saat itu. Meskipun banyak hanya berupa reruntuhan setelah pembakaran tahun 1767 dalam perang dengan Burma, sisa-sisa kejayaannya masih terlihat jelas.

Untuk mencapai ke Ayutthaya, saya menggunakan van yang berangkat setiap jam dari terminal Mo Chit daerah Chatuchak. Biayanya 60 B saja dan Anda sudah tiba sejam kemudian. Sampai di Ayutthaya saya menyewa tuk tuk selama 5 jam. Tidak sulit menemukannya karena sehabis Anda turun van Anda akan diserbu oleh beberapa driver. Per jam sewa tuk tuk seharga 300 B jadi in total saya serahkan 1500 B dan driver siap mengantar Anda kemana saja. 

Berikut beberapa tempat yang saya kunjungi 

Wat Yai Chai Mongkol


Wat Kasattrathirat Worawihan


Wat Mahathat dan Buddha Head in The Roots


Untuk berfoto dengan latar kepala Buddha ini, Anda diharuskan duduk untuk menghormati Sang Buddha.

Wat Phra Si Sanphet



Wat Lokayasutharam


Untuk urusan makan saya diantar ke sebuah rumah makan bernama Baanice (entahlah sepertinya driver sudah kerjasama dengan pemilik restoran). Tempatnya bersih dan recommended karena rasa tom yum yang saya pesan enak banget. Tapi lumayan mahal karena total saya membayar 460 B, termasuk makan siang untuk driver

Wat Chaiwatthanaram



Kembali ke Bangkok saya menggunakan van lagi dengan harga yang sama sekitar pukul 5 dan masih sempat foto di Chatuchak Park meskipun dengan betis yang luar biasa kaku.


Hari-6 Ananta Samakhom Throne Hall dan Ngopi di kawasan Ari
30 Juni 2017

Pagi hari dengan Uber saya mengejar waktu ke Vimanmek Mansion. Sudah terbayang arsitektur kayu yang khas, tapi sayangnya hari itu sedang tutup. Alhasil saya bergerak ke arah Ananta Samakhom Throne Hall yang tak kalah bagus dibarengi sedikit gerimis namun tidak menganggu. 


Setelah puas foto-foto saya menuju Wat Intharawihan dengan patung Buddha pipih setinggi 32 meter. Saya agak banyak bersantai-santai karena hari ke enam ini tidak banyak yang ingin saya lakukan. 


Saya lalu mengarah ke Ari BTS mencari secangkir kopi karena sudah beberapa hari ini absen dari si hitam addicting ini. Jika biasanya coffee shop unggulan Bangkok bisa Anda jumpai di kawasan Ekkamai, Ari justru sedang berkembang. Satu yang saya hampiri adalah Porcupine dengan layanan sangat ramah dan cukup tenang. 


Hari-7 Jim Thompson House dan The Amazing MOCA Bangkok
1 Juli 2017

Karena flight saya masih jam 9 malam, saya punya satu hari yang cukup untuk menambah beberapa daftar kunjungan. Paginya saya mampir ke Jim Thompson House yang tidak jauh dari guest house. Sengaja saya taruh paling akhir jadi saya tidak perlu membawa koper kemana-mana. Untuk masuk Anda perlu membayar 150 B. Rumah ini penuh sejarah dari JimThompson, pria berkebangsaan Amerika yang menjadi pengusaha Thai Silk paling terkenal di Thailand. Kisah uniknya adalah Jim Thompson menghilang secara tiba-tiba pada tahun 1967 di Cameron Highland, hingga sekarang tetap menjadi misteri dan hanya menyisakan sebuah rumah dengan design yang khas. 


Setelah check-out saya menitipkan koper ke pihak guest house karena ingin menikmati 1,5 jam Thai Massage depan guest house. Pijatannya lumayan enak hingga saya tertidur dan perlu mengeluarkan 500  B untuk mendapatkan kenikmatan relaksasi ini. 

Dalam perjalanan menuju Don Mueang, saya sangat merekomendasikan Anda pecinta seni untuk mengunjungi MOCA (Museum of Contemporary Art) Bangkok. Padahal saya kesana dari jam 1 hingga jam 5 tapi rasanya belum puas juga karena tempat seni ini terdiri dari 5 lantai dan setiap lantainya dipenuhi tema tertentu mulai dari lukisan, patung, dan berbagai instalasi. Dengan 150 B Anda bisa melihat berbagai karya seni buatan seniman lokal maupun internasional yang berjumlah hampir 800 karya. Empat jam disana serasa bukan apa-apa dan saya merasa terlalu terburu-buru jadi tidak bisa menikmati sepenuhnya. Favorit saya adalah Salvador Dali karya Watchara Prayoonkum yang akan menyambut Anda ketika masuk. Ahh jika saya ke Bangkok lagi saya pasti akan menambahkannya dalam daftar tujuan.  




Itulah perjalanan saya selama tujuh hari di Bangkok dan Ayutthaya. Untuk Grand Palace dan sekitarnya pasti sudah biasa bagi para turis, namun memasukkan Ayuttha dan MOCA adalah hal yang paling menyenangkan saya dalam petualangan kali ini dan pasti sangat saya rekomendasikan bagi Anda yang sebentar lagi berkunjung ke Siam.